Daftar sekarang untuk mendapatkan update informasi terkini

Delivered by FeedBurner

We'll not spam mate! We promise.

Monday, October 26, 2015

Mengapa bangsa Indonesia tertinggal dari negara lain



Suka tidak suka, setuju tidak setuju, faktanya bangsa kita hampir "selalu" tertinggal dari negara lain. Padahal kualitas SDM bangsa Indonesia cukup diakui dinegara lain bahkan dinegara maju sekalipun. Sudah banyak nama orang Indonesia yang sukses berkiprah di negara lain. Namun apa daya, secara umum negara kita seringkali tertinggal dari negara lain, bahkan negara yang dahulu kita ajari sekarang lebih maju dalam berbagai bidang dari negara kita seperti malaysia dan beberapa negara dikawasan asia lainnya.

Mungkin banyak masyarakat Indonesia yang bertanya-tanya, mengapa hal itu bisa terjadi. Berikut ini beberapa teori yang mungkin relevan jika dikaitkan dengan "ketertinggalan" bangsa kita dari bangsa lain : 

1. Negara Indonesia menganut sistem neoliberal.
Rizal Ramli menyebut ada dua penyebab mengapa Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Asia lain. Pertama, karena Indonesia menganut sistem ekonomi neoliberal. Indonesia meyakini sistem neoliberal dapat menjadi jalan keluar untuk mencapai kesejahteraan.
Di Asia, selain Indonesia, cuma Filipina yang menganut dan meyakini sistem ekonomi neoliberal ini. Indonesia dan Filipina pun menjadi dua negara paling payah di Asia dan menjadi dua negara yang sama-sama suka mengirim tenaga kerja wanita ke negara lain.
"Di dalam sistem neoliberal, yang kuat makin kuat dan yang lemah makin lemah. Tidak hanya itu, dalam sistem neoliberal, segala sesuatu diukur pakai uang," kata Rizal Ramli dalam diskusi nasional dan bedah buku "Pilpres Abal-Abal, Republik Amburadul" di Universitas Negeri Malang, Jawa Timur.

2. Masalah Kepemimpinan
Hanya pemimpin yang berani dan tegas, yang mampu meningkatkan kesejahteraan negaranya. Seperti kita ketahui bersama, dinegara tercinta ini sangat sulit menemukan pemimpin yang amanah, tegas, dan berani. Mungkin hal itu banyak dipengaruhi dengan kepentingan politik, sehingga segala kebijakan yang diambil merupakan solusi win-win solution yang dapat mengakomodir kepentingan politik. Apalagi jika kita melihat tindak tanduk sebagian wakil rakyat yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata :)

3. Kurangnya penghargaan terhadap anak bangsa yang berprestasi
Dari segi teknologi Indonesia tertinggal jauh dengan negara luar. Sebenarnya ada orang-orang Indonesia yang ahli dalam bidang tersebut. Tapi orang-orang tersebut tidak dipelihara oleh negara dan akhirnya malah dipelihara oleh negara lain sehingga bekerja di negara tersebut. Sepertinya sudah banyak kasus-kasus yang diberitakan oleh media terkait poin tersebut. Misalnya saja proyek mobil listrik yang dicanangkan oleh Dahlan Iskan. Jika anak bangsa terbaik tidak dapat berkarya di negara sendiri bagaimana negara ini bisa maju ? Apakah negara ini tidak berpikir jangka panjang dan akan tetap menjadi pasar teknologi negara-negara lain?

4. Kurangnya penghargaan terhadap karya anak bangsa
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan masyarakat Indonesia semakin konsumtif dan mulai meninggalkan kebiasaan menabung. Hal itu tecermin dari menurunnya Marginal Propensity to Save (MPS) dalam 3 tahun terakhir dan naiknya Marginal Prosperity to Consume (MPC).Menurut Anggota Dewan Komisioner OJK Kusumaningtuti S. Soetiono  tren penurunan MPS terjadi sejak 2011, dan pada 2013 akhir rasio tersebut berada di bawah MPC. "Ini artinya masyarakat lebih banyak mengeluarkan uang untuk konsumsi ketimbang untuk ditabung,"
Sayangnya sebagian masyarakat Indonesia lebih memilih produk import atau produk branded yang berasal dari luar negeri. Sehingga uang kita banyak terbang ke luar negeri yang otomatis akan sangat menguntungkan negara penghasil produk yang kita gunakan. Mungkin jika para pesohor dinegeri ini memberikan contoh untuk mencintai produksi dalam negeri yang tentunya harus diimbangi dengan kualitas produk dalam negeri yang baik tentunya akan dapat mengurangi kegemaran masyarakat untuk membeli barang-barang dari luar negeri.


Promo GOJEK terbaru tahun 2015

Semakin ketatnya persaingan antar penyedia jasa ojek online memaksa masing-masing ojek online untuk lebih kreatif dan kompetitif dalam menawarkan pelayanannya. Sebagai pioner ojek online yang telah memiliki basis pelanggan yang tinggi, GOJEK harus dapat memaintain pelanggan setia mereka. Salah satu cara untuk memaintain pelanggan mereka agar terus setia menggunakan layanan GOJEK adalah dengan menawarkan berbagai PROMO yang menggiurkan. Tentunya PROMO tersebut juga diluncurkan untuk mendapatkan pelanggan baru dan agar dapat lebih bersaing dengan penyedia layanan ojek online sejenis yang saat ini banyak bermunculan.

Berikut ini adalah PROMO GOJEK Terupdate tahun 2015 : 

1. Periode Promo 12 Oktober s.d 5 November 2015
 

Layanan GO-BOX dapat dipesan langsung melalui aplikasi GO-JEK dari Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali ke seluruh Pulau Jawa dan Bali hingga ke 15 titik pengiriman. Syaratnya adalah update aplikasi GOJEK versi terbaru.

2. Periode Promo 26 September s.d 15 Oktober 2015
  
Tarif baru GO-JEK untuk layanan Transportasi khusus di kota Jakarta mulai 26 September 2015 pukul 00:00.

Layanan Transportasi di luar Rush Hour (diluar jam sibuk)
- Tarif datar Rp. 15.000*

Layanan Transportasi dalam Rush Hour
(Senin sampai Jumat 16:00-19:00 WIB)
- Minimum Rp. 15.000* untuk 6km pertama dan Rp. 2.500 per kilometer berikutnya.

Untuk layanan Instan Kurir, Berbelanja dan GO-FOOD berlaku tarif Rp. 10.000*, 24 jam untuk seluruh Indonesia.

Keterangan:
    * Rp 10.000 tidak termasuk biaya pembelian barang atau makanan
    * Promo berlaku sampai 15 Oktober 2015
    * Jarak maximum 25km
    * Layanan transportasi GO-JEK di seluruh Indonesia terasuransikan oleh Allianz.

Bagaimana ? Sangat menarik bukan... dengan semakin banyaknya tawaran promo dan jenis layanan yang diberikan oleh penyedia layanan sejenis GOJEK tentunya sangat menguntungkan masyarakat sebagai penggunanya karena pastinya akan semakin terbantu dan mendapatkan harga yang kompetitif.

Friday, September 25, 2015

Penghasilan supir gojek mulai menurun


Booming gojek mengakibatkan banyaknya masyarakat yang ikut bergabung menjadi supir gojek yang salah satu pemicu terbesarnya adalah gembar gembor media terutama media online yang dengan gencarnya membahas mengenai penghasilan driver gojek. 

Beberapa bulan lalu masyarakat indonesia dikejutkan dengan pemberitaan mengenai penghasilan gojek yang dapat menembus angka diatas 10 juta perbulan. Tentunya angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan rata-rata penghasilan karyawan biasa.

Cerita tersebut mungkin sudah langka ditemui saat ini. Bahkan penghasilan driver gojek saat ini pada umumnya  sedang mengalami trend penurunan, seperti banyak diberitakan oleh media online khususnya dalam 2 minggu terakhir. Penurunan penghasilan driver gojek tersebut dapat diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain:
1. Banyaknya masyarakat yang bergabung menjadi driver gojek. Otomatis dengan semakin banyaknya driver gojek maka kemungkinan untuk mendapatkan lebih banyak penumpang menjadi lebih kecil.
2. Banyaknya kompetitor sejenis. Saat ini ojek online sejenis gojek sudah banyak bermunculan dengan penawaran tarif yang beragam, sebut saja grabbike dan blujek. Masyarakat dapat dengan mudah menggunakan layanan dari kompetitor sejenis cukup mendownload & menginstall aplikasi yang disediakan oleh penyedia ojek online.
3. Tarif gojek saat ini "tidak" semenarik tarif pada saat pertama diluncurkan. Pada awalnya gojek memberikan tarif promo sebesar Rp.10 ribu. Bayangkan saja naik gojek dari bekasi ke jakarta cukup membayar Rp. 10 ribu. Tentunya tarif tersebut sangat menarik bagi masyarakat meskipun tarif tersebut merupakan tarif promo dimana pihak gojek yang membayar kekurangan tarif normalnya ke driver gojek. Tarif gojek saat ini sudah mengalami kenaikan dan hal tersebut dipersulit lagi dengan adanya "perang" tarif promo antar penyedia layanan ojek online.

Setidaknya itulah faktor-faktor yang dapat menyebabkan penurunan penghasilan driver gojek. Tentunya bagi masyarakat yang menjadikan driver gojek sebagai pekerjaan utama harus lebih rajin & kreatif untuk dapat meningkatkan penghasilannya, apalagi bagi mereka yang sudah terlanjur resign dari pekerjaan sebelumnya untuk bergabung dengan gojek.

Sunday, September 20, 2015

Perbedaan tarif dan layanan Gojek, Grabbike, dan Blu-jek

 
 Seperti kita ketahui, saat ini penyedia layanan Ojek Online tidak terbatas pada Gojek saja namun sudah banyak kompetitor sejenis seperti Grabbike dan Blu-jek. Secara umum model bisnis ketiga layanan Ojek Online tersebut memang sama. Memang sudah diprediksi sebelumnya bahwa layanan sejenis seperti Gojek akan ramai bermunculan, karena terpicu oleh booming kesuksesan Gojek dalam memikat hati masyarakat dikota-kota besar dalam menggunakan layanannya.

Sepertihalnya pada bisnis-bisnis yang lain, jika kompetitor belum dapat memberikan layanan yang berbeda/inovasi baru, maka yang mereka tawarkan adalah perbedaan tarif. Ya, mungkin perbedaan tarif itulah yang paling membedakan antara ketiga layanan ojek online tersebut. Berikut ini adalah perbedaan tarif dan layanan antara Gojek, Grabbike, dan Blu-jek :

Layanan
Gojek
Grabbike
Blu-jek
Tarif (promo) saat ini
Rp15.000 (Rp15.000 6 KM pertama dan Rp2.500/KM saat peak hour)
Rp10.000 (Rp20.000 untuk peak hour/jam sibuk)
Rp 25.000
Metode Pembayaran
- Cash
- Gojek Credit
Cash
- Cash
- E-Money (Mandiri)
Layanan
- Transport
- Delivery
- Shopping
- Food Delivery
Transport
- Transport
- Delivery
- Shopping
- Food Delivery

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tarif dari ketiga layanan ojek online tersebut masih merupakan tarif promo, dalam artian tarif tersebut belum mencermikan tarif yang ideal/sebenarnya yang harus dibayarkan oleh konsumen ketiga layanan tersebut. Pertanyaannya saat ini adalah sampai kapan ketiga layanan ojek online tersebut "perang tarif promo" dalam merebut hati masyarakat untuk menggunakan layanan mereka. Mungkin kondisi persaingan bisnis ojek online mirip dengan kondisi persaingan provider seluler beberapa tahun lalu, dimana antar provider seluler saling perang promo yang ujung-ujungnya perang tarif untuk mendapatkan hati masyarakat. 

Mungkin selain dari sisi tarif, inovasilah nanti yang akan sangat menentukan ojek online mana yang akan survive.


Monday, September 14, 2015

Hambatan dan tantangan yang harus dihadapi Gojek



Melihat perkembangan GOJEK memang sangat menarik karena GOJEK merupakan startup pioner dibidang ojek online sehingga tampaknya cukup fair jika GOJEK dijadikan contoh, harapannya perkembangan GOJEK ini dapat menjadi suatu success story yang dapat diambil sebagai lessson learned bagi startup lainnya. 

Jika beberapa waktu yang lalu terdapat booming euforia GOJEK yang "menjangkiti" banyak masyarakat dikota-kota besar dimana banyak masyarakat baik yang belum memiliki pekerjaan maupun yang sudah memiliki pekerjaan (dan mengajukan resign) hingga ibu-ibu rumah tangga sangat antusias untuk gabung menjadi driver GOJEK maka saat ini sepertinya efuforia tersebut sudah tidak seheboh beberapa waktu lalu. 

Ada beberapa hambatan atau lebih tepatnya tantangan yang harus dihadapi oleh GOJEK. Tantangan tersebut antara lain : 

1. Tarif GOJEK sebetulnya "kurang" kompetitif. Ya, seperti kita ketahui bersama tarif gojek yang dulu Rp. 10.000 s.d 25 KM kemudian naik menjadi Rp. 15.000 s.d 25 KM dan saat ini turun lagi menjadi Rp. 10.000 s.d 25 KM merupakan tarif promo atau dengan kata lain pihak GOJEK masih melakukan subsidi terhadap pelanggan. Adapun tarif sebenarnya bisa jauh diatas tarif promo tersebut yang nilainya bisa lebih tinggi dari tarif ojek konvensional/pangkalan

2. GOJEK belum memberlakukan tarif riilnya karena masih melihat kompetitornya seperti GRABBIKE yang juga masih memberlakukan tarif promo. Mungkin pihak GOJEK berpikiran jika menaikan tarif saat ini, maka pelanggannya akan pindah ke GRABBIKE yang masih memberlakukan tarif promo. Karena untuk menggunakan layanan dari GOJEK ke GRABBIKE  masyarakat tinggal menginstal aplikasi GRABBIKE pada ponsel mereka. 

3. Menurut informasi dari pihak GOJEK yang dihimpun dari berbagai media, pihak GOJEK sebenarnya lebih menyasar pada pelanggan yang tidak "price sensitive" atau tidak terlalu mempersoalkan tarif layanan, tapi lebih mengutamakan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan. Padahal jika diteliti lebih jauh, pasar GOJEK yang terbentuk saat ini sebagian besar adalah pelanggan kalangan menengah bawah yang masih "price sensitive", dimana mereka tertarik menggunakan GOJEK karena tarifnya yang kompetitif selain kemudahan, transparansi harga, kemanan dan kenyamanan yang tidak ditawarkan oleh ojek konvensional.

4. Banyak bermunculan kompetitor ojek online. Tidak dapat dipungkiri jika ada startup baru yang muncul dan mampu berkembang dengan pesat maka akan muncul kompetitor-kompetitor sejenis yang juga ingin menguasai pasar tersebut. Tentunya pihak GOJEK sudah menyiapkan strategi dan amunisi agar tetap memiliki competitive advantages dibidang ojek online karena mereka sudah mendapatkan keuntungan sebagai pioner dibidang ini, walaupun hal tersebut tidak dapat menjamin keunggulan GOJEK karena pada akhirnya pasarlah yang lebih menentukan ojek online mana yang akan bertahan.

5. Maraknya manipulasi oleh driver GOJEK. Ini merupakan isu yang harus ditangani secara serius oleh pihak GOJEK, dimana terjadi kelemahan sistem yang memungkinkan driver GOJEK melakukan order fiktif untuk mendapatkan keuntungan yang berlebih dan sangat merugikan pihak GOJEK.

6. Masalah privasi pelanggan atau potensi penyalahgunaan data pelanggan GOJEK. Akhir-akhir ini media sosial cukup diramaikan oleh salah satu postingan yang berisi "teror" dari oknum driver GOJEK yang merasa tidak terima dengan review yang diberikan oleh salah satu penumpangnya. Oknum driver GOJEK tersebut mengirim pesan SMS yang bernada ancaman ke penumpang yang memberikan review negatif. Selain itu ada pula oknum driver GOJEK yang memanfaatkan nomor HP penumpangnya untuk melakukan "menggoda" penumpang tersebut. Mungkin masalah privasi tersebut terlihat sepele, namun data-data tersebut jika dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab akan sangat merugikan. Bayangkan saja tindak kejahatan yang mungkin muncul ketika seorang yang memiliki niat buruk mengetahui alamat kerja, alamat rumah dan nomor Handphone seseorang... belum lagi jika orang tersebut memperhatikan juga keadaan rumah, lingkungan rumah calon korban..... yah semoga saja hal tersebut hanya menjadi kekhawatiran saja.

Setidaknya itulah tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh GOJEK dalam waktu dekat. Sangat menarik untuk dilihat bagaimana pihak GOJEK mencari solusi untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Karena bagaimanapun GOJEK sendiri sudah banyak membantu masyarakat baik pengguna layanan maupun driver GOJEK yang sangat terbantu terutama dari sisi pendapatan.

Friday, August 28, 2015

Alasan ojek pangkalan tidak bergabung dengan gojek


gojek

Dibalik kesuksesan yang diraih oleh gojek, ternyata hal tersebut menimbulkan beberapa permasalahan yang cukup serius. Masalah tersebut tidak timbul dari pihak pengelola gojek maupun pengemudi atau driver gojek, namun masalah tersebut lebih banyak disebabkan oleh adanya gesekan "kepentingan" dengan tukang ojek pangkalan atau ojek konvensional. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini tukang ojek pangkalan bisa dapat dikatakan kalah saing oleh gojek, meskipun adanya gojek sendiri tidak dimaksudkan untuk menyaingi atau "menyerobot" lahan tukang ojek pangkalan. Karena gojek sendiri sebenarnya menawarkan kerjasama dengan tukang ojek pangkalan atau dengan kata lain pihak gojek ingin bermitra dengan tukang ojek pangkalan. 

Saat ini pertanyaannya adalah kenapa tukang ojek pangkalan tidak mau bergabung dengan gojek ?. Dari informasi yang diperoleh dari pengemudi gojek yang juga mantan tukang ojek konvensional didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 

1. Tukang ojek pangkalan biasanya berbasis komunitas dimana rasa persaudaraannya cukup kental dan ada pandangan bahwa jika anggotanya gabung ke gojek hal tersebut merupakan "pengkhianatan" terhadap komunitas ojek pangkalan dimana dia biasanya bergabung. Pada dasarnya banyak tukang ojek pangkalan yang ingin bergabung dengan gojek karena melihat dengan gabung gojek dia bisa mendapatkan pendapatan yang jauh lebih banyak, namun biasanya niat tersebut diurungkan karena takut dengan adanya ancaman, maupun tidak diterimanya tukang ojek tersebut pada komunitasnya.

2. Banyak tukang ojek konvensional yang tidak mau move on alias ingin menjalankan bisnis seperti biasanya (business as usual). Mungkin karena mereka telah berada pada zona nyaman atau comfort zone mereka. Tukang ojek konvensional bisa dibilang cukup santai, tanpa perlu aktif / jemput bola seperti yang dilakukan pengemudi gojek, mereka cukup mangkal ditempat-tempat strategis dan tinggal menunggu calon penumpang yang mau menggunakan jasanya. 

3. Tidak mau mempelajari teknologi. Ya, di era teknologi informasi saat ini hampir seluruh aspek kehidupan telah tersentuh oleh kemajuan teknologi. Tidak terkecuali pada gojek. Sayangnya sebagian tukang ojek konvensional masih beranggapan bahwa penggunaan smartphone adalah suatu hal yang rumit, sulit, dan berbelit sehingga mereka tidak mau mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Hal tersebut tentunya menjadi kendala ketika tukang ojek tersebut ingin bergabung dengan gojek. Karena pengemudi gojek harus familiar dengan penggunaan smartphone dalam menunjang operasional sehari-hari, seperti mencari penumpang, mengecek saldo, dan berkomunikasi dengan penumpang.

4. Keberatan dengan sistem bagi hasil yang ditawarkan oleh gojek. Setiap transaksi pengemudi gojek akan ditarik fee oleh pihak gojek sebesar 20%. Angka tersebut sebenarnya bukan angka yang besar jika melihat kemudahan dan keuntungan jika menjadi pengemudi gojek. Dari hasil pengakuan seorang pengemudi gojek yang dulunya pernah lama menjadi ojek pangkalan, pendapatannya saat ini dengan bergabung dengan gojek meningkat tajam, jika rajin dalam sebulan bisa mendapatkan penghasilan diatas 5 juta rupiah dan dia tidak mempermasalahkan fee sebesar 20% karena penghasilan yang diperolehnya kini jauh lebih besar. Diapun berujar, penghasilannya dulu saat menjadi tukang ojek konvensional tidak signifikan karena banyak waktu yang terbuang untuk menunggu penumpang maupun menunggu antrian tukang ojek lain yang sudah duluan mangkal. 

Mungkin saat ini saat yang tepat untuk para tukang ojek konvensional mulai membuka diri untuk bergabung dengan gojek maupun ojek online lainnya yang mulai menjamur akhir-akhir ini seperti grabbike hingga bluejek. Karena mau tidak mau, suka tidak suka dunia ini akan selalu mengikuti perkembangan zaman (teknologi) sehingga siapapun yang tidak siap untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi maka akan semakin tertinggal :)

Tuesday, August 11, 2015

Cara mengetahui toko online yang terpercaya

Saat ini belanja secara online sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat indonesia, terutama bagi masyarakat yang tinggal diperkotaan. Beberapa hal yang menyebabkan masyarakat lebih memilih belanja secara online daripada belanja secara konvensional seperti belanja di toko maupun di mall adalah toko online umumnya menawarkan harga yang lebih kompetitif/murah, disamping itu belanja secara online sangat memudahkan pembeli dalam memilih barang dan membandingkan harga antara satu toko online dengan toko online yang lain sehingga pembeli dapat memperoleh harga terbaik tanpa perlu bersusah payah menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendatangi toko atau berkeliling di mall belum lagi harus menempuh jalanan kota besar yang selalu macet, macet dan macet. 

Namun, pertumbuhan minat masyarakat akan belanja secara online sepertinya saat ini telah dimanfaatkan oleh segelintir oknum yang berusaha mendapatkan keuntungan dari praktik belanja online dengan cara-cara yang tidak benar. Seperti yang sering diberitakan dimedia, banyak masyarakat kita yang telah tertipu akibat praktik toko online yang tidak benar. Nah, bagi anda yang gemar belanja online tapi tidak ingin menjadi korban penipuan anda dapat melakukan pengecekan alamat toko online untuk mengetahui apakah toko online tersebut terpercaya atau tidak. Salah satu cara termudahnya adalah dengan melakukan pengecekan alamat toko online melalui situs www.polisionline.com.

polisionline.com


Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa polisionline.com bukanlah unit dari pihak kepolisian. Polisionline.com memiliki tujuan untuk  memberikan informasi adanya tindak kejahatan di dunia maya, seperti banyaknya Toko Online dengan modus Penipuan yang sangat merugikan masyarakat, kami berharap tindakan kejahatan semacam ini bisa diantisipasi oleh para pengguna jasa pembelian online, sehingga masyarakat merasa lebih Aman dan Nyaman saat melakukan transaksi pembelian secara online.

Cara pengecekan toko online melalui polisionline.com sendiri sangat mudah, anda cukup membuka situs www.polisionline.com kemudian anda masukan alamat toko online yang ingin anda cek.